Makrab, Memperpanjang Barisan Pendendam

“Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi, dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.” – Soe Hok Gie

 

Selamat datang mahasiswa baru (maba), selamat membeli ilmu di tempat yang mengajarkanmu berpikir kritis, namun jangan heran jika kelak kau dicampakkan karena kekritisanmu. Selamat tergabung dalam kelompok minoritas yang kreatif dan berdaya cipta, namun jangan kaget jika kelak kau dibredel karena daya ciptamu.

Menjadi mahasiswa baru berarti menjadi kelompok intelektual yang siap dikerdilkan oleh budaya basi senioritas kampus yang sedari dulu tak kunjung mampus. Beberapa mahasiswa yang lebih dulu “menjarah” tampaknya memang lebih bangga membusungkan dada sembari menatap tengik ketimbang memberi salam selamat datang kepada maba.

Kebanyakan, mahasiswa seperti inilah yang menanti-nanti dibukanya lowongan menjadi panitia Malam Keakraban (makrab) menyambut maba. Namun miris, dalam prakteknya makrab sering membelok jauh dari visi misi makrab itu sendiri. Sebuah momentum yang seharusnya menjadi kesempatan untuk saling mengenal akrab satu sama lain justru menjelma ajang untuk meluapkan kedangkalan pikiran mereka dengan cara mencaci-maki dan menindas para maba.

Merupakan rahasia semua orang bahwa makrab menjadi dendam berantai dan sarat senioritas yang sampai detik ini masih didukung dan dikelola oleh Lembaga Kemahasiswaan (LK) fakultas maupun universitas. Bersembunyi dibalik slogan-slogan yang menjunjung solidaritas antara senior dan junior, makrab yang salah kaprah dan mengedepankan gojlokan adalah tindakan mahasiswa yang menurut saya sangat memprihatinkan sekaligus yang paling munafik tak terbantahkan.

Berbekal rasa tidak puas dan gagalnya makrab yang diusung oleh LK fakultas, beberapa semester lalu, saya dan kawan-kawan membuat sebuah aksi protes dengan menyebarkan selebaran pamflet makrab tandingan yang kemudian sukses membuat geram para pejabat LK fakultas saat itu. “Menurutmu semuanya itu tidak berarti? Asal kamu tahu semua itu ada esensinya,” bentak salah satu orang di LK fakultas yang waktu itu tampak jelas sedang menghakimi saya, yang ia maksud -semuanya- adalah perpeloncoan serta tetek-bengeknya.

Maka, sejak saat itu saya menyadari betapa tidak mampunya mereka mencari gagasan atau tindakan yang mempunyai esensi meski tanpa perpeloncoan. Alhasil kegiatan yang ada hanyalah tugas-tugas tidak rasional untuk menuruti hasrat dan kemauan mahasiswa senior yang tidak penting. Mereka sama sekali tidak berpikir jika hal-hal seperti itu berpotensi melahirkan geng-geng kecil di ruang lingkup kampus yang justru dapat memperpanjang barisan pendendam.

One thought on “Makrab, Memperpanjang Barisan Pendendam

  1. Four to five servings of this juice has to be consumed every week to obtain the desired result. Thus, in the event the muscles inside the penile area are relaxed, more blood will type in the penis and an erection will occur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *