Menghadapi Manusia Mesin

Semalam kartu debitku sempat tertelan karena mesin mendadak galat setelah mengirim uang. Kebetulan seluruh uang tersimpan di akun bank. Seketika aku jadi sadar kalau selama ini buku tabungan tidak terbawa, dan apesnya lagi aku hanya membawa SIM, Pasport dan KTP fotokopian.

Leletnya kinerja instansi pemerintah membuatku harus menunggu proses pembuatan e-KTP selama berbulan-bulan. Asu memang.

Praktis, KTP yang kubawa kemana-mana hanya fotokopian saja. Kebetulan tidak pernah ada masalah dengan stasiun atau bandara. Kalau boleh memilih, aku tidak begitu tertarik memiliki KTP dengan kolom agama yang harus kuisi. Menyebalkan memang berurusan dengan negara tanpa menunduk sedikit saja.

Tadi siang bank buka meski akhir pekan. Aku paham betul kalau syaratnya memang harus menggunakan buku tabungan karena ini sudah ke lima kalinya mesin mereka rusak dan menelan kartu debitku. Empat kali di kota sendiri, sekali di pulau topis yang eksotis ini.

Aku pikir sedikit aman, masih ada struk transfer semalam, foto buku tabungan disertai keterangan tanggal hari ini, dan foto mesin ATM yang semalam sempat rusak.  Berharap mendapat kebijakan dari pihak bank yang kualitas mesinnya busuk itu.

Satpamnya menghimbau kalau mengurus ATM yang tertelan wajib membawa buku tabungan. Aku bilang kalau buku tabungan ada di Salatiga, dan kalau melewati jalur laut setidaknya butuh 5 hari untuk mengambil, dan itu mustahil.

Beruntung itu tidak jadi masalah. Mereka mengiyakan menilik buku tabungan menggunakan foto. Brengseknya, perasaan lega hanya mampir sebentar. Mereka bilang kalau yang paling penting harus menggunakan KTP asli, dan SIM tidak diperkenankan. Alasannya, dari pihak bank ingin membuka akses melalui nomor identitas di KTP.

Aku menyerahkan fotokopi KTP. Ditolak. “Kami hanya menerima KTP asli saja,” katanya. “Bukankah bank hanya membutuhkan nomor identitas saja? Apa bedanya nomor identitas di KTP fotokopi dengan yang di KTP asli?”

Sumpah, aku heran, dia bilang kalau petugas harus melihat foto berwarna di KTP. Jelas aku semakin ngotot, “foto saya yang berwarna di KTP akan terlihat di layar komputer setelah nomor identitas saya di akses!”, dia tak kalah ngotot “tidak mas, syaratnya memang sudah seperti itu. Kami hanya ingin melihat saja, tidak sampai satu menit. Paham mas?”

Aku sempat tambah berang. Bodohku jadi semakin kelihatan karena harus mencak-mencak di bank. Petugas minta maaf, wajahnya melas. Ia sama sekali tidak bisa membantu. Prosedur sudah seperti itu.

Aku juga salah kalau semakin ngotot, meskipun ndongkol dan sangat kecewa karena rusaknya mesin mereka benar-benar sangat merepotkan. Padahal melancongku masih lama, masih ada penerbangan lagi dua hari berikutnya, masih harus nyebrang banyak pulau, masih banyak tempat yang harus dijangkau. Wadaw.

Aku merasa prihatin sekali, betapa ngerinya ketika petugas bank harus meminta maaf kepadaku berkali-kali hanya karena ia memilih untuk patuh terhadap sistem.

Petugas bank sempat dilema, antara mementingkan kemanusiaan atau menjalankan sebuah sistem. Ia memilih yang terakhir, menjadi robot yang terlanjur sistematis, karena untuk itulah ia diupah.

Bedebah. Yasudahlah, pasrah.

2 thoughts on “Menghadapi Manusia Mesin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *