Perempuan, Laki-laki & Rasa Aman

Ilustrasi oleh @ondoambruk

 

Gerakan perempuan dengan bukti dan teorinya telah membuka mata khalayak bahwa dunia ini secara masif telah diciptakan dan dimiliki kaum laki-laki.

Dari kepala rumah tangga hingga seorang nabi, semuanya dibentuk, dikuasai dan diperankan oleh laki-laki. Dari kelas kampung hingga sekaliber negara, laki-laki selalu mendominasi kuasa.

Mereka menulis kitab, membentuk regulasi, mereka mengontrol peradaban. Lalu di mana peran perempuan? Di mana peran makhluk yang dituntut lembut, gemulai dan rapuh itu?

Masyarakat lebih mengikhlaskan jika perempuan baiknya di rumah saja. Kalau pun bekerja, semua sudah diatur porsinya. Jadi, mau ditempatkan di mana saja, perempuan sudah pasti tak punya banyak kendali atas hidupnya sendiri.

Dari urusan berpakaian, cara berjalan, gaya bicara hingga urusan selangkangan, semua sudah ada ketetapannya. Negara sudah bersekongkol dengan agama untuk membatasi perempuan sedemikian rupa.

 

Ilustrasi oleh @ondoambruk

 

Kebiasaan seperti ini membuat mayoritas laki-laki memegang otoritas penuh atas kehidupan sehari-hari, hingga akhirnya terbentuk sebuah citra bahwa laki-laki harus menjadi kuat, tidak boleh lembek, dan anti termehek-mehek.

Laki-laki dituntut memenuhi ketentuan tersebut jika kejantanannya masih ingin diakui. “Kalau mau menangis, cincang saja penisnya, cowok kok cengeng!” Demikian katanya.

Inilah masyarakat, selalu ingin diakui, selalu banyak syarat. Realitanya tidak semua laki-laki merasa benar-benar hidup dengan pilihan karakter tersebut.

Banyak laki-laki harus repot-repot menemukan tempat yang aman untuk menangis, menutupi segala kelemahannya dengan menjadi palsu. Serumit itu. Penuh tekanan, kepura-puraan, melankolisnya dipendam. Kalau sudah membuncah lantaran tak kuat menahan, meledaklah amarah.

Sikap seperti itu malah membuat laki-laki tidak lagi asli, ia telah menyamar, mengenakan bayak wajah. Alih-alih terlihat garang, justru membuat dirinya hilang. Menangis ya menangis saja, tak perlu dikorelasi dengan alat kelaminnya.

Selama berabad-abad kenyataan yang timpang ini terus dirawat oleh masyarakat demi kepentingan sepihak. Dilestarikan dan menjadi sebuah kultur.

Maka tak perlu heran ketika perempuan telah sampai pada titik jenuhnya, mereka yang punya keberanian akan memberontak. Mereka ingin merenggut dirinya kembali, ingin merdeka dari laki-laki (makhluk yang sejatinya juga tidak seratus persen merdeka).

Berbondong-bondonglah kaum perempuan, kemudian saling berjaringan. Dari dapur turun ke jalan, menuntut kesetaraan. Indah memang.

Sayangnya, kerap kali pemberontakan itu kebablasan. Mulanya kesetaraan yang diinginkan, setelah itu berbuntut hasrat untuk berbalik menindas lawan jenisnya atas kekeliruan yang selama ini dipraktikkan.

Kalau sudah seperti itu, yang ada hanya pengulangan, dan pengulangan tidak akan pernah melahirkan perubahan sama sekali. Sampai kiamat hanya akan mengulang-ulang kesalahan.

Lantas, bagaimana dengan perempuan yang tidak bernyali mengubah keadaan?

Kekuasaan laki-laki telah menggiring perempuan pada ketakutan. Dalam kondisi seperti itu, hal terbesar yang mengusik pikirannya adalah bagaimana cara ia mendapatkan perasaan aman dari orang lain.

Keinginan tersebut muncul karena perempuan sudah terlanjur merasa lemah dan dilemahkan, mereka butuh sebuah jaminan perlindungan oleh sosok yang dianggap lebih kuat, yang bisa jadi belum tentu lebih kuat.

Itulah kenapa pernikahan seolah-olah menjadi solusi, menjadi benteng pertahanan bagi perempuan. Sebuah keterikatan yang ekstrim.

Saya membenci sebuah pernikahan, dan sejauh ini tidak memiliki ketertarikan untuk menikah, namun belum tentu juga saya tidak akan menikah suatu hari. Saya merasa tuntutan tersebut memiliki potensi besar untuk menjebol keidealisan saya dalam hal menikah.

Bagi laki-laki, pernikahan adalah sebuah penjara. Pernikahan berarti sebuah tanggung jawab. Kebanyakan laki-laki sadar akan hal ini, tapi mau tidak mau mereka tak sanggup mengelak, karena sistem telah mengakar ke setiap lapisan.

Sebaliknya, bagi perempuan, pernikahan adalah istana perlindungan. Mereka ingin dinafkahi, ingin dijaga sehidup semati karena merasa rapuh dan asing dalam dunia yang telah dimiliki kaum laki-laki.

Mereka tidak bisa disalahkan, budaya telah membentuknya, perempuan akan merasa lebih aman ketika sudah dinikahkan. Lebih halal, lebih sah. Bah!

Sehingga cinta adalah sekunder, keamananlah yang menjadi primer. Aman dari pelecehan, aman dari gosip tetangga, aman dari kemiskinan, aman dari gunjingan sosial hingga merasa aman dari hari tua yang menyebalkan. Itulah kenapa timbul jargon urban, “ngurusin cinta mau makan apa?”

Padahal sifat manusia rentan dengan ketidakpuasan. Jika sebuah hubungan terjalin hanya karena mendapat perasaan aman, suatu kelak hubungan akan mudah limbung bilamana pasangan itu menghadapi cobaan yang membuat perempuan kembali merasa takut, kemudian mencari peluang untuk mendapat jaminan lain yang lebih aman. Kalau sudah menikah, jadilah perceraian.

Jelas ceritanya akan beda jika sebuah hubungan murni tercipta dari masing-masing cinta. Laki-laki tidak akan merasa mengorbankan tanggung jawabnya, karena pengorbanan seketika sirna oleh ketulusan. Ia akan mengalir dan menetes begitu saja.

Perempuan tidak akan merasakan lagi sebuah ancaman, ia sudah tak butuh jaminan untuk membuatnya selalu merasa aman, karena renjana telah membuat hatinya tentram raharja.

Ancaman apapun telah lenyap. Mereka telah berpadu dalam kesenyapan yang meresap khidmat, sebuah cinta yang tak lagi memerlukan kata-kata, pembuktian, pengorbanan dan pengakuan. Menyatu tanpa mengikat, terlepas begitu ikhlas, dan bersiaplah karena masyarakat segera menghujat, “kau tidak waras!”

3 thoughts on “Perempuan, Laki-laki & Rasa Aman

    1. Menarik ya yak. Aku seneng mocone. Cuma, kok semacam kebalikan ya? Meskipun kehidupan pria ng kono sepintas yo ora merasa terzolimi. Poin paling tak senengi soal sudut pandang mereka terkait seks dan pernikahan. Suwun yak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *