Monolog : Aku Ini Rektor, Bukan Diktator

Joko Tamak yang gemar menembak.
Ilustrasi oleh : CRIBE33

Perkenalkan, aku adalah Joko Tamak. Dari namaku saja sudah mencerminkan seperti apa diriku. Panggil saja JT agar singkat, ringkas dan tak bertele-tele. Aku ini seorang rektor, hobiku meneror, mengontrol dan memonitor segala yang kotor. Kedengarannya horor? Memang. Meskipun yang aku kerjakan nyaris tiada bedanya, namun aku lebih suka disebut rektor ketimbang diktator.

Belasan tahun menjadi kaisar di universitas, membuat tubuh rentaku ini semakin beringas, semuanya bisa aku peras. Aku bisa menciptakan regulasi dan mengeluarkan statuta semaunya, namanya juga berkuasa. Bebas lah. Emangnya kalian yang selalu nurut saat aku pecut? Hahaha . . . pengecut!

Dengan berada di posisi itu, maka sudah jelas kalau perkara uang aku tak kurang-kurang. Wajahku juga kebule-bulean. Setiap kali aku berangkat kerja melintasi trotoar, mahasiswiku yang molek dan cantik rutin menyapa “halo pak rektor, semangat sekali berangkat mengabdi meski tak mengendarai motor.”

Mengingat usia sudah senja, setiap pagi aku mengendarai mobil merah tua untuk pulang-pergi kerja. Namun terkadang juga berjalan kaki, selain baik untuk kesehatanku agar tetap tangguh mengendalikan universitas secara penuh, berjalan kaki membentuk citraku semakin menjadi-jadi.

Sehingga kalau aku sehat dan tak jelek-jelek amat, mahasiswi mana yang tak akan terpikat? Peraturan apa yang tak bisa kubuat? Dosen mana yang tak bisa kupecat? Mahasiswa mana yang ngeyel dan tak bisa kuberedel? Cuih!

Matahari meredup di jantung kampusku, siapa gerangan yang hendak berontak?
Murid-murid mulai sengit, kelas-kelas mendadak sunyi. Tuhan, bagian tubuhku mana lagi yang akan kau kebiri?

Sebagai seorang diktator, ehh ralat, maksud saya rektor, banyak mahasiswa yang telah aku korbankan. Persetan. Toh mereka sudah lebih dulu aku buat pasif, sehingga semua sudah kondusif. Mentok, paling mereka hanya berdemo, mengkritisi dan buat petisi. Basi!

Mana berani mereka menggugat? Apalagi senat, semua sudah kusunat dengan kesibukan yang tak perlu, sampai-sampai mereka buta dan tak punya waktu. Hahaha kurang licik apa aku? Salah sendiri jadi pelajar kok tak peka situasi. Tahunya hanya membayar dan belajar. Tapi tak apa, yang aku butuh memang pelajar seperti itu. Sungguh memudahkan pekerjaanku.

Apalagi persma yang pernah merepotkanku itu sudah angkat kaki dari universitas ini. Iya, persma kudisan yang sempat berlagak heroik dengan mengangkat sejarah partai komunis di kota ini sudah aku buat tidak betah dan akhirnya memilih minggat. Dasar kudisan! Baru seumur jagung sudah coba-coba bikin tahtaku limbung.

Tinggal satu persma yang perlu disingkirkan. Persma sok kritis dan prinsipil yang namanya kelatin-latinan itu kerap juga memusingkan kepalaku. Hobinya mengungkit-ungkit masa lalu dan memojokkanku. Aku bukan superman, aku ini rektor, kok teganya dilecehkan oleh ilustrator. Superman menumpas kebajingan, aku membasmi kebajikan. Tolong dibedakan. Tolol!

Setidaknya kalau persma itu tak bisa kusingkirkan, jiwa-jiwa kritisnya bisa kubunuh dan kulenyapkan. Karena kalau terus aku biarkan, aku sendiri yang terancam. Dasar comberan semua!

“Temaram berlabuh dan kerajaanku mulai runtuh. Sebentar lagi, aku tak lagi utuh, murkaku kambuh.. Eli, eli, lama sabakhtani.”

Ngomong-omong soal tahta, kini aku sedang cemas-cemasnya. Ada orang yang masih satu kampung halaman denganku terpilih untuk melengserkan diriku dengan cara mengendap-endap dan tertutup. Gelarnya saja tak seberapa sudah mau macam-macam saja. Praktis, itu sungguh memuakkan bagiku.

Memangnya dia tidak ingat statuta yang kubuat? Atau jangan-jangan dia abaikan? Belum profesor kok mau tersohor. Jangan kira sekampung sama artinya dengan saudara bung! Tahu apa dia soal universitas?

Sudah tentu aku yang arogan ini akan ngambek. Kalau aku dilengserkan maka kuancam seluruh awak rezimku turut lengser sekalian. Enak saja, sudah lama aku susah payah untuk terus berlama-lama duduk di kursi tertinggi gedung rektorat, kok tiba-tiba digulingkan dengan tidak transparan. Huft, murahan. Cukup aku dan gerak-gerikku saja yang tidak transparan.

Coba perhatikan betul rekam jejakku. Dari mulai menyantuni satu persatu korban kasus usang soal kemelut, sampai mengubah aturan umur menjadi rektor supaya aku tetap absolut. Belum lagi kebijakan-kebijakan yang kubuat, termasuk aku pilih sendiri siapa yang akan menjadi dekan.

Aku bahkan merentalkan fasilitas mahasiswa yang seharusnya gratis, menjadikan mahasiswaku sebagai kelinci percobaan tri semester, hingga merampok orang tua mereka secara santun demi membangun fakultas baru guna mendongkrak universitas ini lekas kaya raya atas nama gereja dan bangsa, atas nama agama, pendidikan dan pengabdian masyarakat.

Jujur, aku tak sudi melantik anak kencur. Gengsi dong lur. Lebih baik aku mengundurkan diri dan kalian semua akan kuancam. Mampus kau dikoyak-koyak ancaman. Siapa suruh menggantiku seenak dengkul, sudah tahu aku ngambekan. Pokoknya tidak ada rektor baru. Tidak ada yang bisa menggantikan diriku. Titik.

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

69 thoughts on “Monolog : Aku Ini Rektor, Bukan Diktator

    1. Pandita Novella

      Auuu

  1. Robertus Adi Nugroho

    nyetrum

    1. Pandita Novella

      Nyengat.

  2. Yosiest

    Ngeri, Bung!!! Akupun terkoyak…

    1. Pandita Novella

      Tak apa asal jangan terkonak.

  3. Destapena

    Pak rektor butuh lagu eta terangkanlahh

  4. Lily

    Wew, naskah yang keren

  5. Caca Siahaan

    Ntap jiwa!

  6. Papin la aru hutagaol

    Ngeri2 sedap bah bahasanya

  7. IanBK

    Mantap, pedesnya sampai ke hati.

  8. Nova Tumbil

    hebat sekali…mudahan bs jd org yg lebih baik dr Joko Tamak.

  9. Van

    “Tolong dibedakan. Tolol!”. – Joko Tamak
    I love that part.

  10. tajemm…
    kliatan benci banget sama JT..
    heuheuheuheu….

      1. heuheuheu…. saluut..
        merasa nyaman sebagai pembenci. lanjutkan saja bung. arahmu sudah tepat..

        1. Ini ranah sastra bung. Silahkan dikritisi tanpa keluar dari ranah ini. 🙏🏿

          1. benar sekali om, tameng kapten amerika kalah ampuh.
            sastramu dan sastraku beda definisi..
            lanjutkan.

  11. Chlo

    Harusnya dia ikut ke Amerika… Menyusahkan orang yang di sana saja 😊

  12. iky

    Oh my goshhhhh… bagaimana kita bisa tiba dititik ini !!??

  13. boss kacau

    isu perubahan masa jabatan rektor di statuta 2000 hingga pemilihan dekan hanya dilakukan oleh rektorat… Tetaplah jaya UKSW ku tercinta semoga kau bisa tetap bertahan di tengah badai

  14. tentu tidak. kan karya fiksi.
    apakah saya menyampaikan keberatan ?

  15. Tulus

    BARA

  16. dombret

    sehat ndut? haha

  17. Billy

    Sangar tulisannya OM

  18. Maria

    Keren skaliii

  19. Sugar Glider

    Rima-nya mantap hingga tak bisa berpaling tatap…
    Lanjutkan !

  20. yudhaperw

    hiduplah garba politik kita.

  21. profesor juga manusia, pandita kuwi ya manungsa . . . aja dumeh broo
    ketika kejahatan terbungkus kemunafikan . . . (y)

  22. Selalu Ada retorika, senyum Dan pidato nya Persis darah!

    Kau Diktator apa rektor, suda pangkat prof mainnya Sperti Penjaga Malam…
    Heheh
    Kreen bung,..

  23. Mahendradatta

    Tidak ada pendalaman karakter tokoh baik dari sisi tradisi, human, psiko dll. Gaya bahasa dan kekayaan kosa kata sangat ordinary, miskin. Karyua sastra ? Boleh lah, termasuk kelas wedus.

    1. Pagi-pagi dapat pemberitahuan. Mirip obat pencahar, ini satu-satunya komentar yang ampuh bikin berak saya jadi lancar. Kritis, sayangnya keminggris. Mengkritisi kosa kata saya yang miskin dengan menggunakan bahasa orang lain.

      Terimakasih komentarnya. Cukup nendang, termasuk kelas udang. 🍤

  24. Ndaru bukan purnomo

    merampok orang tua mereka secara santun demi membangun fakultas baru guna mendongkrak universitas ini lekas kaya raya atas nama gereja dan bangsa, atas nama agama, pendidikan dan pengabdian masyarakat.

    Haha tajem lho wkwk
    Lanjut berkarya bung

  25. Ricky

    Wow… sedapnyooo… erotis.. sekseeeee… haha..

  26. Rektor (bukan) Diktator

    Pak dita asolole

  27. Rai Kresnandaru

    Salut!

  28. Gundala

    That was cool

  29. Aku sopo

    Tendensius..jauh dari fakta..bocah kurang gawean..huahaha

    1. Lantas fakta Joko Tamak itu seperti apa? Saya dalangnya, terserah saya mau saya apakan.

  30. Gabriel

    Semoga sukses naik daun dengan mengambil situasi ini untuk berkarya. Mengutip “fakta” yang tuna realita, pun tak berani menyebutkan nama. Jasamu memperkeruh suasana takkan dilupakan satya wacana.

    1. Saya suka komentarnya. Silahkan kalau mau menyebut Satya Wacana. Santai, saya mencoba memahami.

  31. joko

    Apalagi persma yang pernah merepotkanku itu sudah angkat kaki dari universitas ini. Iya, persma kudisan yang sempat berlagak heroik dengan mengangkat sejarah partai komunis di kota ini sudah aku buat tidak betah dan akhirnya memilih minggat. Dasar kudisan! Baru seumur jagung sudah coba-coba bikin tahtaku limbung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *