Hampra

Aku ingin bercumbu denganmu Salatigaku yang berjejal rindu, berbicara tentang gerai-gerai yang kebarat-baratan, atau orang-orangmu yang mulai bebal dan berbelok akal, mengatasnamakan Tuhan dan slogan-slogan murahan.

Kendati mereka jengah, berkata kepadaku kau kerdil, sempit, udik dan lugu, terbengkalai dan terbelenggu. Namun tiada guna bagiku, teduhmu adalah haribaan seorang ibu, sederhana, berlapis makna. Dalam ketidaksempurnaanmu, aku terlelap nyenyak, seperti lapang dadamu, yang tak berontak, terinjak-injak.

Petang terjun perlahan di jantungmu, di antara emper toko dan hening pasar, aku bersimpuh tanpa riuh, gusar. Memandang manusia-manusia yang berdesak peluh demi buah hati yang pandai mengeluh.

Lalu di antara panas kopi dan api kretek merah menyala, aku pahami ini semua, melampaui puitisnya angkringan hingga kolong jembatanmu. Kau di sanubari, Salatigaku yang tergores waktu.

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *