Menginap di Kebun Binatang

Kamu kemana hari ini?

Aku mendengar gagak mendengkur semalaman di mushola, menerka-nerka hantu penyanyi dangdut, menistakan kamar mandi, membeli pecel hutan berkabut, mengabaikan makian beranjing-anjing dari pecinta anjing. Mencuci piring, menolak pusing. Meninabobokan telepon genggam.

Jalan setapak mengantar pada kesombongan seekor merak, arogan dalam sangkar. Aku menirukan suara kalkun, menggoda ayam mutiara, menyapa kijang jantan yang hikmat bermasturbasi dalam penjara.

Lalu menjenguk ikan-ikan di teras kamar, aku bawakan mereka buku tentang ruang yang jauh, ruang yang mungkin dan ruang yang hilang. Ternyata mereka lebih pintar. Tak berbahasa, tanpa pura-pura, tanpa harus bertelembuk seperti kita.

Di taman buah aku terbakar, kemudian lapar. Aku memasak mi dok-dok di kebun binatang setelah khatam 25 batang , bermalas di atas peternakan ayam, membaca sebentar puisimu yang bertagar.

Aku hanyalah fragmen, menulis tak harap digubris, tak ingin terlibat dalam panggung sandiwaramu yang puitis.

 

 

Madiun, 10 hari sebelum pergi.

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *