Merdeka 100%

24 Januari, 1946. Petang ambruk, kala itu empat sekawan sedang duduk-duduk di malam yang suntuk. Bertukar ide soal revolusi, kebangsaan dan kemerdekaan yang baru saja seumur ganja. Ada Soekarno, Sjahrir, KH Agus Salim dan Hatta. Entah meja tersaji kopi atau arak, malam itu tak begitu semarak sampai seorang pekatik membuka pintu. “Paduka, ada tamu yang hendak bertemu,” kata pekatik itu kepada Soekarno yang sedang menghisap cerutu. Betapa runtuh obrolan mereka saat mengerti tamu itu adalah rusa berbulu merah, mantan sekretaris komunis yang enggan masuk kabinet proklamasi, sang revolusioner kiri yang lama mengembara, peracik bangsa yang banyak nama, Tan Malaka.

Malam pun canggung, gurauan menjadi tanggung. Tan Malaka dipersilahkan duduk dan ikut berembuk. Basa-basi perihal kabar tak luput diutarakan. Tapi sang rusa tidak datang hanya untuk basa-basi saja atau omong kosong belaka. Ia ingin mengatakan suatu pesan yang telah lama menyangkut dan tertahan dalam ruang-ruang benaknya. Segera ia berkata.

“Kepada kalian para sahabat, tahukah kalian kenapa aku tidak tertarik pada kemerdekaan yang kalian ciptakan. Aku merasa bahwa kemerdekaan itu tidak kalian rancang untuk kemaslahatan bersama. Kemerdekaan kalian diatur oleh segelintir manusia, tidak menciptakan revolusi besar. Hari ini aku datang kepadamu, wahai Soekarno sahabatku. Harus aku katakan bahwa kita belum merdeka, karena merdeka haruslah 100 persen. Hari ini aku masih melihat bahwa kemerdekaan hanyalah milik kaum elit, yang mendadak bahagia menjadi borjuis, suka-cita menjadi ambtenaar. Kemerdekaan hanyalah milik kalian, bukan milik rakyat,” ungkapnya dibarengi empat muka kikuk dengan mata menatap gelap. Lalu disambung kembali wanti-wantinya itu.

“Kita mengalami perjalanan yang salah tentang arti merdeka, dan apabila kalian tidak segera memperbaikinya maka sampai kapanpun bangsa ini tidak akan pernah merdeka. Hanya para pemimpinnya yang akan mengalami kemerdekaan, karena hanya mereka adil makmur itu dirasakan. Dengarlah perlawananku ini. Karena apabila kalian tetap bersikap seperti ini, maka inilah hari terakhir aku datang sebagai seorang sahabat dan saudara. Esok, adalah hari dimana aku akan menjelma menjadi musuh kalian, karena aku akan tetap berjuang untuk merdeka 100 persen,” matanya masih tajam beberapa detik seusai bicara, melihat ragam wajah yang merasa terhina. Terlebih Soekarno yang uratnya tak bisa disembunyikan. Sesingkat itu, Tan Malaka berpamitan tanpa menunggu sanggahan.

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *