Perempuan yang Mengenaliku di Malam Hari

Ilustrasinya Greg Sidharta

 

“Klara?” Aku memanggilnya saat tak sengaja bertemu di pusat perbelanjaan kota pada suatu siang. Klara tidak menjawab, sekadar menatap heran. Matanya seperti ingin bertanya siapa diriku, bahwa dia sama sekali tidak mengenalku. Mendapati sikapnya, aku pun membisu dengan canggungku. Tujuh detik setelah aku memanggil namanya, Klara berjalan menjauh tanpa menoleh belakang, hingga dirinya lenyap ditelan kelimunan orang.

Ini bukan pertama kali. Kita tinggal di kota yang sangat kecil, sehingga banyak peluang untuk saling berjumpa meski tanpa rencana. Setiap kali aku tak sengaja melihatnya di mana pun tempatnya, aku tak pernah risau memanggil namanya. “Klara, Klara, Klara, Klara,” tiga kali aku memanggilnya dalam hati, sisanya aku ucapkan dengan kegirangan. Aku mengerti apa yang akan aku dapati setelah dia mendengar suaraku menyebut nama yang kirana itu. Wajahku bisa ditampar, dicaci-maki, diludahi, atau yang paling sering dan paling ringan aku diacuhkan.

Kadang aku takut, tapi rinduku ugal-ugalan. Saat seperti itu aku berbuat curang. Sengaja aku mencarinya. Tak begitu sulit menemukan Klara. Dia sering berlama-lama di warung kopi, mondar-mandir di rumah sakit, di pertunjukan musik blues, bersandar di tembok-tembok mural atau berselancar di markas laki-laki hartawan nan rupawan. Kalau sudah ketemu, aku akan menyelinap sebisaku, kemudian melihat dan memanggilnya dari kejauhan. Klara pasti kebingungan lalu dalam benaknya mengumpat, “ngentot, siapa sih yang memanggilku siang-siang?” Kadang senyum-senyum sendirian, dikira sedang digoda polisi flamboyan. Kadang dia hanya diam, karena memang tidak setiap saat namanya bisa diingat.

Klara, dia tak akan mengenal siapa diriku sebelum hari benar-benar malam. Sepanjang pagi hingga sandikala tiba, dia betul-betul tidak mengingatku. Bahkan Klara tidak selalu bisa mengingat dirinya. Aku mengenalnya sore hari pada musim hujan, setahun yang lalu. Hari itu di keramaian kota, orang-orang berlarian menghindari basah. Aku dan Klara adalah bagian dari mereka yang bergegas dan tergesa-gesa. Di atas kursi halte, dia duduk di samping kiriku. Hening percakapan, hanya riuh deras hujan. Selama setengah jam aku tak sanggup lagi menahan diri tanpa omongan.

“Kenapa ibu di pojok itu selalu melihat arloji?” Aku bertanya dengan menuding ke arah paruh baya yang gelisahnya begitu kentara. “Ibu itu punya kencan dengan selingkuhannya, hujan membuat waktunya berantakan. Apa yang kamu pikir tentang pria celana jombrang itu?” Kami saling menerka-nerka orang-orang yang berteduh di sekitar, sesekali mengisi suara mereka dengan obrolan seenaknya. Ada pria jangkung yang dia tebak adalah seorang hipster dengan memori gawainya yang penuh koleksi musik indie. Aku mengira pria berdasi itu sedang pusing dengan segala perkerjaannya di kantor yang pelit honor, dan seterusnya sampai hujan reda dan aku tahu namanya. Klara.

Dalam seminggu, Klara dan aku terus memperbesar peluang untuk bertemu. Aku mengenalkannya kepada kambingku yang berbulu biru. Dia mengajakku jalan-jalan dengan seekor serigala. Aku memberinya nama Lare, karena matanya hitam, bulunya merah muda. Belum genap sebulan, orang mengira kami telah menikah dan tak menyebar undangan. Padahal Klara dan aku merencanakan pernikahan jika bisa terus bersama setelah 50 tahun. Kami terus bersama-sama selama berbulan-bulan, jika ada yang mengikat, itu hanyalah tali yang mengucir rambutnya yang gelap.

Pada bulan ke enam, kota semakin akrab dengan hujan dan perkelahian kami setiap hari. Warung-warung makan menjadi lahan debat yang gawat. Klara adalah perempuan buas yang pernah kutahu, sekaligus pemurah. Ia adalah seekor angsa, yang kapan saja bisa menjadi buaya. Tidak ada hari tanpa berkelahi karena Klara dan aku adalah sepasang penakut. Bersama merasa takut, berpisah pun semakin takut. Tidak ada celah lagi untuk keberanian. Kami berdua sangat-sangat ketakutan. Terlebih Klara, aku tidak pernah menyangka bahwa ketakutan akan merusak ingatannya.

Pada bulan ke tujuh, Klara sudah tidak mengenalku. Dalam ingatannya, aku hanya dapat dikenali ketika malam hari. Bagi kami berdua, malam selalu menjadi perayaan sebuah ingatan, Klara selalu datang kepadaku dengan keluwesannya bercerita. Dia pendongeng yang baik. Gemar sekali bercerita tentang laut dan paus biru yang bunuh diri di pesisir pantai. “Menurutmu, kenapa paus menghukum dirinya sendiri dengan sengaja berenang ke tepian? Apa mungkin dia kesepian?” Pertanyaan yang sering dia ulang menjelang tidurnya. Jawabanku selalu beda. “Karena paus merindukan daratan.” Kemarin aku mengatakan, “karena sudah tidak ada cinta di lautan.” Besok akan aku jawab “Karena laut banyak menuntut, dan paus mengira pantai adalah jaminan hidup, padahal hatinya saja yang redup.”

Tidak ada makna filosofis, aku hanya menjawab seadanya. Begitu juga pertanyaan Klara, kami tidak pernah serius dalam membahas paus. Dia hanya suka bercerita sebelum lelap tertidur. “Aku mencintaimu,” sebuah penutup malam yang rutin disampaikan. Entah di mulut entah di lubuk jantungnya yang carut atau di syairnya yang takut. Kadang dia akan menari-nari di depanku seperti Daud. Setiap malam, Klara datang ke rumahku dengan membawa selimut, bantal dan boneka yang dicintainya. Dia hanya ingin bercerita lalu tidur, mengistirahatkan tubuhnya dengan ketenangan yang dia dambakan. Besok pagi dia sudah tak mengenaliku lagi.

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *