Pulang Meninggal Pilang

Kota ini sunyi. Lebih dulu sunyi sebelum kau bawa sepimu kemari. Ia tidak peduli dengan kedatangan dan kepergian. Ia tidak menuntut siapa saja untuk pulang atau dipulangkan.

Beberapa pekan lagi di hari yang baik nanti, ruang-ruang yang tertinggal akan menjadi lahan baik untuk beternak puisi. Ia akan menjadi hujan dan menyentuh lidahmu yang kering. Mungkin aku akan melihat kau menyatu di botol anggur, air mineral, warung makan babi, bungkus rokok buah berry, dan di segala ruang serta materi.

Lanskap susumu akan menuju kota yang lebih sibuk, sore yang padat dan sarat penat. Lebih erat dengan kebingungan masyarakat. Malam-malammu barangkali akan riuh dan angkuh. Sementara, tiada jari-jari kasar yang mengurut secara urut, mengusap dan mengusik keningmu, atau telapak tangan berdebu yang menepuk pantat agar tidurmu lekas berangkat.

Jika ada yang perlu dirindukan, itu adalah dirimu sendiri yang harus kau renggut kembali. Tidak ada kota serta pemukimnya yang berkewajiban untuk membahagiakan seseorang, berbahagialah dalam ada dan ketiadaan.

 

 

Salatiga, 26 Juni 2017

Semalam yang tulus di kamar sang juru gambar, aku betul-betul tidak merasa kehilangan apa pun.

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *