Surat Futuristik

Ini adalah surat untukmu. Saat aku menulisnya, kau belum genap tiga tahun dan masih jujur dalam segala hal. Kau menangis, merengek, memukul, menari, menyusu, dan berbuat sesukamu kepada ibu.

Jika nanti kau sudah bisa membaca, aku ingin kau membacanya. Jika membaca sekali kau belum mengerti, surat ini jangan kau buang. Simpanlah di tempat yang paling aman di jagat raya. Baca kembali ketika kau merasa cukup dewasa, bacalah berulang-ulang sampai kau paham.

Kelahiranmu di luar rencana. Entah cinta atau birahi yang membuahkan. Kau adalah hadiah, kelak kau bisa saja hajar mereka yang menganggap kelahiranmu sebuah masalah. Saranku, jangan lakukan.

Sedikit bocoran untuk membantumu mengenal seberapa menyebalkannya kau sekarang. Saat ini kau sudah bisa menyiapkan makanmu sendiri, memahami bahasa cukup cepat, melempar apa pun dengan akurat, kau sering bermain-main di sumur ketika ibu lengah karena lelah mengurusi dapur.

Aku mengenalmu sebagai penyendiri yang tangguh untuk anak seumuranmu. Kelak, kemampuanmu menyendiri sebanding kemampuanmu mencintai. Aku tak paham apakah dulu aku sepertimu, tak banyak informasi tentang masa kecilku.

Kau penggemar filem yang sayangnya tak punya banyak pilihan, kau pengendara mobil mainan yang cukup mahir karena mampu melewati lika-liku rumah tanpa menyenggol perabotan.

Kau tahu di mana letak piring, kau hafal takaran susu, kau menggeliat setiap malam untuk bicara kepada hantu. Kau sendiri yang bilang hantu, aku anggap itu temanmu. Ibu memang bukan lawan bicara yang asyik, aku tak heran kau selalu ajak bicara apa saja termasuk yang kau anggap hantu. Kau menikmati obrolanmu tanpa rasa takut.

Kini kau hidup di bentala yang luas, nantinya kau akan berperan sebagai pencipta masalah paling wahid sekaligus paling beringas. Dari tempat-tempat terpencil, pinggir danau yang sunyi, pedesaan hingga melingkupi kota-kota yang sibuk, kau tidak pernah berhenti berkecamuk. Sejak dalam pikiran, masalah sudah ditimbulkan. Tenang, kau tak sendirian.

Pertikaian tak ada henti karena pikiran selalu bergelut, ia terus mengamuk mencari celah, untuk terus hidup yang tak untuk dirayakan, tetapi untuk hidup yang terus dipertahankan. Kau ingin berhenti berpikir, tapi kebebasan bukan milikmu. Pikiran selalu takut, dan ketakutan menjadi beranak pinak, bercabang-cabang.

Selalu merasa terancam dari orang-orang yang sama, sama-sama takut. Takut tak bisa makan, maka diembat segala makan dengan porsinya yang urakan. Menyimpannya untuk lapar yang akan datang, yang lain dikira tak butuh makan, yang lain dikira tak butuh sandang, yang lain dikira tak butuh sarang. Ah, yang lain mah persetan.

Dunia akan terus membuatmu bermimpi, sementara pergumulan terus terjadi. Selera akan terus meningkat, seiring waktu. Tapi segalanya akan ditertibkan. Imajinasi, hingga urusan ranjang, akan ada penertiban. Sekalipun kau tidak merugikan, kau tetap akan ditertibkan.

Kau akan memberi banyak jatah waktu untuk menyiapkan hidup di kemudian hari, hanya menyisakan sedikit waktu untuk hidup pada hari ini. Padahal masa lalu sudah lewat, masa depan sekadar bayangan. Kapan lagi mau hidup kalau bukan sekarang? Terserah.

“Kita bertemu kalau sudah tua, bersakit-sakit dahulu saja, bersenang-senang entah kapan,” kepadamu orang-orang akan berkata seperti itu.

Perayaan ada diujung, tidak untuk hari ini. Kau akan menyemukan kenyataan-kenyataan yang sudah pasti. Hari esok adalah hari kebahagiaan akan datang, hari ini adalah perang, ketakutan, keroyokan, persaingan untuk terus mencari kecukupan-kecukupan, demi masa yang di angan. Perlahan nasib akan membawamu seperti mamalia laut.

Jika tak ingin berakhir seperti paus, jangan sekali-kali menganalisa Camus, hidupmu tak akan kau urus. Jangan coba-coba mengenal Krisnamurti, kau akan ditertawai. Novel-novel semacam Walden, puisi-puisi sejenis Rumi lekas singkirkan dan jangan diingat-ingat lagi.

Jauh-jauhlah dari Karl Marx, waktumu akan lenyap ditelan kursi-kursi ruang diskusi. Bakar Das Kapital. Buang segala buku tentang Tolstoy, berhentilah menyimak orang-orang seperti Freud. Beli buku Trump, bacalah Boy Chandra dan sekalibernya.

Seperti ibu, rajin-rajinlah kau pergi ke gereja. Maka segala diskon akan ditambahkan kepadamu. Bahkan jika sewaktu-waktu persoalan datang, semua dapat diselesaikan dengan sepatah kalimat tenang yang melegakan. “Rencana Tuhan indah pada waktunya,” enak bukan?

Dengarkan saja musik-musik gereja dan orkestra, disertai dampingan orang tua, tak perlu pergi menjemput distorsi pada panggung-panggung trancy, tak perlu mencari bias warna pada David Bowie, tak perlu terhanyut dalam denyut Frank Sinatra.

Tak perlu sampai berjoget lengking Radiohead, hindari menilik kehidupan melalui Mudhoney. Lupakan Velvet Underground. Bermainlah piano, mainkan musik klasik, ikutilah paduan suara, bacalah puisi tentang surga dan indahnya bernegara.

Mencintailah seperti Uya Kuya atau yang Tere Liye katakan, Sidharta maupun Rajnees cepat-cepat kau abaikan, di masa sekarang itu sungguh tidak relevan, entah di masamu nanti, kurasa masih sama pasti.

Maka jadilah dirimu, manusia tak utuh yang membanggakan orang tua seutuhnya, dengan tidak menjadi bangga atas dirimu sendiri.

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *