Tiba-tiba Aku di Langit

 

 

Ilustrasi oleh Pink Floyd

 

Terakhir aku bertemu Ibu, usianya masih 44. Sekarang, aku hampir tidak mengenalnya karena kepala ibu sudah enam, dia merawatku dengan bantuan medis selama 16 tahun. “Ini tahun 2033,” katanya tanpa menyembunyikan matanya yang sembab, kemudian syukur tak henti-hentinya diucap.

Aku masih linglung. Pandanganku lopak-lapik. Semua terlihat senewen. Saat itu, hal terakhir yang bisa aku ingat, aku tertidur di bangku kapal, padahal rasanya belum ada sehari.

Di kamarku, ada beberapa yang sudah terganti. Seperti warna cat tembok, pintu dan jendela serta perkakas-perkakas asing yang fungsinya tak kupahami. Sisanya masih sama, buku-buku, foto kekasih dan poster-poster musisi yang meninggal sebelum milenium. Sedikit usang memang.

“Sebenarnya ada apa, bu?”

Kata ibu, sudah sangat lama aku terbaring koma setelah kecelakaan kapal di laut jawa saat perjalanan pulangku dari Makasar menuju Salatiga, 2017 silam. Sudah pasti aku curiga kalau aku ini sedang bermimpi. Lalu perut aku cubit, rasanya sakit.

Untuk memastikan lagi, aku meminjam gawai ibu. Aku akses seluruh media sosial yang pernah kupunya. Karena beberapa sandi masih terkait dengan orang yang saya kasihi, mengingatnya bukan perkara rumit. Butuh cukup waktu membiasakan diri untuk memakai gawai.

Di facebook, saya mendapat ratusan doa, ucapan lekas sembuh dan semacamnya. Sungguh tampak memprihatinkan. Tidak ada yang timpang, seluruh ucapan dapat kubaca gamblang, meski setiap membacanya geriap berkali-kali hinggap.

Aku membuka instagram, beberapa orang yang aku kenal memang sudah jauh berbeda. Sekilas mereka bahagia, memiliki anak dan rumah tangga yang baik, begitu pula akun perempuan yang kupajang fotonya di figura kamar. Tidak ada kiriman yang menunjukkan kenelangsaan. Aku kira semua sudah bahagia pada masing-masing hidupnya.

Tapi sejak dahulu, di instagram memang seakan-akan tidak pernah ada kesedihan, tidak ada orang miskin. Adanya orang yang lebih kaya atau tidak lebih kaya, lebih bahagia atau tidak lebih bahagia dari lainnya.

Sepertinya memang bukan mimpi. Aku melangkah kesana-kemari. Melihat sudut-sudut ruangan rumah yang banyak berubah. Aku merasa, mendengar, menjamah begitu nyata. Begitu sadar, realis, tanpa ada yang semu dan utopis. “Baiklah, ini bukan mimpi,” batinku.

Rupa-rupanya ibu mengabari beberapa temanku. Katanya aku sudah kembali. Haris datang 4 jam setelah ia menerima pesan. Wajahnya berganti tua. Kumisnya tipis. Gelagatnya tetap. Cengar-cengir dan fasih bicara. Aku masih canggung, tak berani membalas gurauan. Pikirku, hal-hal yang dulu mungkin sudah basi, dan tak akan terdengar lucu.

Tiba-tiba aku sudah di dalam mobil. Kursi yang empuk, parfum cemara, lagu-lagu tua. Terasa sungguh, meski tidak banyak percakapan. Baru lima menit perjalanan, mataku sudah terbiasa. Dari jalan nakula sadewa, merak sampai osamaliki, semuanya beton. Tak ada rimbun pohon. Aku tidak melihat bakso, es campur, cilot dan semua penjual kaki lima yang ngotot membuka lapak di trotoar.

Segalanya sistematis. Lalu lintas, penyebrangan, infrastruktur, fasilitas umum dan sampai akhirnya di parkiran kampus. Aku menghampiri satu gedung. “Scientiarum,” aku sebut dalam pikiran.

Sekumpulan anak-anak tidak kukenal. Akuarium hilang. Patmo, Johny dan Remon jelas sudah lama mati tanpa regenerasi. Che juga sudah pergi, terganti tokoh yang tidak aku mengerti. Tukang becak beragam piagam dan prestasi juga sudah lenyap. Meja, rak buku, almari dan kursi-kursi kayu dengan kaki-kaki besi yang rombeng pun jejaknya ada di gudang belakang. Dulu, perasaanku pernah tandas di kursi itu secara tegas. Lepas.

Tiba-tiba aku sudah di rumah. Tiba-tiba aku berpindah-pindah. Kehendakku terjadilah. Aku bisa berlari, aku bisa berdiri tanpa menapaki. Tiba-tiba aku di kebun Arya, tiba-tiba aku di langit, tiba-tiba aku di kopi Sendja.

Tiba-tiba aku mengerti. “Ini Lucid Dream!”

 

 

Tiba-tiba aku di langit, seikat kisah nyata dalam mimpi. Ditulis tiga jam setelah terbangun dari lucid dream. Tulisan ini dapat dibaca juga di medium.

2 thoughts on “Tiba-tiba Aku di Langit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *