Tidak ada yang salah dengan perceraian

Michael Dumontier and Neil Farber

 

Perpisahan tidak mengenal kasta. Mereka yang melarat, mereka yang ningrat akan menghadapinya cepat atau lambat. Entah ditinggal minggat, entah ditinggal ngendat.

Maka, semakin besar orang menggantungkan hidupnya pada orang lain, dia semakin berpeluang mengalami perpisahan yang menyayat, lalu hatinya sekarat.

Bentuk dari perpisahan yang paling tak asing lagi setelah kematian adalah perceraian. Tidak ada yang salah dengan kematian, begitu juga perceraian. Lhah, kok bisa?

Secara personal, perceraian adalah pembebasan dari sebuah kehidupan dalam pernikahan yang tak sanggup lagi untuk dilanjutkan. Selama betul-betul bercerai dan tidak menyeret korban, tidak ada yang patut disalahkan. Lha apanya yang mau di salahkan?

Masyarakat? Itu sudah pasti. Masyarakat yang tak lain adalah kita sendiri, tetangga, teman, orang tua, tokoh agama dan tetek bengeknya memiliki potensi untuk menghujat perceraian selama mengamini pernikahan adalah suatu keharusan bagi semua kalangan yang wajib dijalani sampai ajalnya.

Karena merekalah yang menciptakan pernikahan, mereka yang telah menuntut bahwa haram hukumnya bercinta tanpa ikatan. “Kumpul kebo!! Tidak halal. Amoral!” Katanya.

Segala hal yang bertentangan, sekalipun itu soal personal, kemerdekaan akan dimatikan. Ditikam-tikam. Apalagi yang sudah kadung mbrojol anaknya. Nah, ini yang paling jadi sorotan.

Karena orang hidup di jaman yang serba takut, terciptalah tradisi-tradisi yang serba menuntut. Menikah misalnya. Lalu mereka terbelit akad, menyerahkan hidup sepenuhnya di bawah sumpah.

Sampai akhirnya seorang anak lahir dan tumbuh dalam balutan stereotip yang terus mengalir. Dari suguhan masyarakat dan media, adalah mimpi buruk bagi seorang anak untuk hidup tidak dengan orang tua biologisnya. Stigma terkait ayah tiri, ibu tiri, saudara tiri dan segala yang tiri sungguh erat kaitannya dengan yang jahat, selalu dipandang bejat.

Belum lagi olok-olok di sekolah hingga lingkungan sekitar rumah. Bagaimana jadinya seorang bocah ketika dia tidak sanggup mengatakan apapun di saat masing-masing temannya membanggakan betapa hebat orang tua mereka?

Tanpa didikan yang jujur dari orang tua, bayangan tersebut semakin menambah kesan betapa menakutkannya sebuah perceraian. Ini kronis. Sejak dini seorang anak sudah dibiarkan terjerat dengan bias-bias yang gawat.

Jika tiada yang salah dalam perceraian. Lalu bagaimana nasib anak? Enak betul sudah membuat secara khusyuk dan nikmat, ujungnya diterlantarkan begitu saja dengan mengakhiri pernikahan yang jelas-jelas sudah disaksikan.

Sebenarnya, perceraian bukan suatu masalah besar bagi seorang anak selama kedua orang tua sepakat untuk jujur dan dewasa dalam menghadapinya.

Celakanya, tidak sedikit orang tua yang terlalu takut untuk mengatakan kebenaran kepada anak bahwa perceraian adalah hal yang sangat-sangat rentan dan nyata dalam setiap budaya pernikahan.

Bukan maksud mengagendakan perceraian dengan membekali seorang anak beragam kiat-kiat untuk menghadapinya. Namun, yang menimbulkan masalah besar adalah ketika seorang anak secara sengaja atau tidak sengaja dilibatkan ke dalam konflik orang tua tanpa memiliki kapasitas untuk memafhuminya.

Anak mendengar perdebatan, melihat perselingkuhan bahkan kekerasan. Ia menonton semua hal-hal gila yang dilakukan orang tua. Dengan pemahaman yang nihil sejak kecil, ia hanya bisa menerka-nerka, meraba-raba, ia resah karena sama sekali tak mengerti kenapa orang tuanya berpisah.

Masa emasnya dikacaukan perkara yang bukan porsinya. Pikirannya tak berhenti bertanya, ia terusik. Adalah fatal jika pertanyaan-pertanyaan itu ia simpan terlalu lama, hingga keras dan membatu, menjadi hasad dan dendam kesumat.

Rumah tangga bukan sebatas ayah dan ibu saja, anak juga sosok yang patut diperhatikan suara dan perasaannya. Ia perlu diakui eksistensinya.

Bahkan ketika bercerai, bukan berarti seorang anak ikut diceraikan. Peran orang tua tetap berlaku hingga anak tumbuh dalam pendewasaan yang baik.

Sebuah dilematis ketika anak mengira mana yang lebih nalar, mana yang paling benar dengan kesiapan yang mentah dan cara berpikir yang masih amatir.

Perceraian bukanlah urusan antara orang tua dengan anak, perceraian adalah murni problematika orang tua itu sendiri. Jika anak sampai menjadi korban, itu bukan perceraian, tapi pembodohan.

3 thoughts on “Tidak ada yang salah dengan perceraian

  1. Sammy

    Ciamik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *